Hera, apakah ini kamu, nak? XD
Pertanyaan kayak gini nih ngebuat saya ngerasa berperan dalam merusak moral bangsa. #eaaa #muatamu :)))
Jadi begini, saya nggak bilang kalo nikah itu gak perlu. Karena, yang perlu menurut saya, belum tentu perlu menurut orang lain. Dan kenapa itu dianggap perlu juga biasanya alesannya beda-beda.
Ada yang nganggep perlu supaya ntar kalo punya anak gak digosipin ama ibu-ibu tetangga sebelah (sambil beli gula di warung komplek) atau menganggap itu perlu karena butuh bukti hitam di atas putih untuk menuntut tanggung jawab atau apalah - untuk segala hal (mungkin) - dari pasangannya, dll, dst, dsb, blablabla.
Ada orang yang nganggep nikah itu gak perlu, but they wanna do it because they actually wanna spend the rest of their lives with that someone. Example? Me. Hehe.
Jadi, perlu atau nggak, itu relatif. Yang mutlak itu komitmennya. Well, at least, if you want a long lasting marriage. Kalo cuma coba-coba aja sih, sebodo’ amat yak …?
So, please, don’t get me wrong. I have nothing against marriage. I do have something against a commitment-less marriage.
Demikian.