Ebuset! Ini udah lama ya submit pertanyaannya? HAHA. Maap. Jarang ngecek ask box.
Iya. Kemaren sempet ngobrol-ngobrol random ama Alex (@aMrazing). Lupa awalnya soal apa tapi he ended up knowing that I was about to get married and he told me he wanted the same thing. I don’t know if you know this, but he’s gay. So that’s a bit difficult for him to get here, in Indonesia. Which breaks my heart. Because homosexuals should have the same rights as the heterosexuals.
For me, I care more about the commitment. In every relationship, as long as you’re committed to it, it’s always a little bit better than the one without it.
Ada orang yang menikah tanpa komitmen. Yang paling umum sih (di Indonesia), karena keluarga. Atau karena umur. Contoh : ADUH UMUR KAMU UDAH 20SEKIAN, MAU NIKAH UMUR BERAPAAAA? NANTI KEBURU JADI PERAWAN TUA LOH!
Sound familiar, right? I know.
Jadi, kadang - kadang, pressure kayak gitu bisa ngebuat orang memilih untuk menikah tanpa merasa harus berkomitmen. Jadinya menikah dengan pemikiran, “Ya udahlah. Biar ga ditanya-tanya lagi, “kapan nikah?”” atau, “Biar orangtua gue seneng. Nyenengin orangtua kan ga ada salahnya” The latter is true, but not quite. But that’s a whole different subject kayaknya ya? :D
Ujung-ujungnya, kalo ada masalah, lebih gampang untuk “cabut”.
Commitment makes you work your problems. Together. To find a way out instead of walking out.
So for me, it’s better if you’re in a committed relationship instead of a commitment-less marriage. And that’s what I was trying to tell Alex. That it’s okay. That, sometimes, marriage is just a piece of paper, especially without the commitment.
Mudah - mudahan ngerti ya maksudnya. Sejujurnya, aku agak ribet nih ngejelasinnya. Tadi abis makan banyak banget, trus sekarang kekenyangan jadinya kerja otak agak melambat. #dijelasin #kemudianjoget X)))